header-photo

Merakyatkan Pajak, Mensejahterakan Rakyat



Di negara – negara maju, pajak adalah kepastian. Keikutsertaan masyarakat akan pembayaran pajak adalah kewajiban yang tak bisa dihindari. Seperti kematian, warga tak bisa bersembunyi dari pajak. Namun hal itu tak berlaku di negara kita, siap saja bisa menghindar dari pajak. Caranya sederhana, berlindung dibalik selimut aturan perpajakan itu sendiri.
  
Terobosan terbaru Ditjen Pajak, PP 46 Tahun 2013
Tak satupun penduduk bumi yang suka bayar pajak. Namun siapa yang tidak tergiur tinggal dengan nyaman dan sejahtera seperti warga Norwegia dan Swedia yang menurut laporan The Economist dalam  Pocket World in Figures, warga negara- negara tersebut memiliki kualitas hidup terbaik di dunia.

Rahasia kesejahteraan warga tersebut bisa jadi karena keberhasilan pemerintahnya untuk ‘mengajak’ masyarakat turut serta mendanai perekonomiannya dengan pajak. Sejalan dengan hal tersebut, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) di tahun 2012 melansir bahwa negara-negara sejahtera itulah yang secara konsisten dari tahun 1965-2010 memiliki tax ratio tertinggi di dunia, bahkan hingga 50.8% (capaian untuk Denmark tahun 2005).

Di Indonesia tax ratio (2012) baru mencapai kurang lebih 15%. Jauh tertinggal dari negara-negara peserta OECD. Tapi dengan tax ratio yang hanya kisaran belasan persen tersebut, pajak sudah dapat menopang kurang lebih 70% APBN. Bayangkan jika keikutsertaan masyakat meningkat separuhnya saja, APBN akan dapat seluruhnya dibiayai oleh pajak. Dan penerimaan negara lainnya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Lalu angan-angan tersebut mengapa hingga kini masih menjadi mimpi indah saja? Jika berbicara tentang rendahnya kepatuhan wajib pajak, baik pemerintah maupun masyarakat pasti punya sederet alasan masing-masing. Masyarakat misalnya, malas bayar pajak dengan alasan kerepotan dengan administrasi dan peraturan yang tidak praktis. Dari malas kemudian bertambah menjadi apatis karena jengah melihat ulah pejabat yang seenaknya mengkorupsi uang negara hasil dari pengumpulan pajak. Sedang pemerintah berkilah tentang rendahnya kepatuhan karena sejumlah alasan teknis hingga kurangnya kesadaran masyarakat.
Lalu sampai kapan wajib pajak lari dengan tameng sulitnya administrasi dan pemerintah bersembunyi dalam alibi minimnya partisipasi?

Pajak 1%, Upaya Merakyatkan Pajak
Baru-baru ini, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pajak final atas penghasilan wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu. Peraturan pemerintah yang tertuang dalam PP No. 46 Tahun 2013 ini dipahami oleh masyarakat sebagai pajak untuk sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Peraturan ini merekontruksi metode penyetoran pajak bagi wajib pajak yang memiliki omset sampai dengan Rp.4,8 Milyar. Wajib pajak yang tadinya harus menghitung angsuran pajaknya dengan rumit, kini hanya dengan satu tarif yaitu 1% dari omsetnya setiap bulan. Selain tarif yang rendah, wajib pajak juga tidak perlu dipusingkan dengan pelaporan tiap bulan. Karena tarif tersebut bersifat final akhir tahun wajib pajak juga tidak perlu memperhitungkan kembali penghasilannya. Sekali bayar tiap bulan, selesai. 

Dengan tarif yang rendah, penerapan PP No. 46 tahun 2013 ini diprediksi akan menurunkan pembayaran pajak bagi sektor UMKM namun berpotensi memperluas basis pembayar pajak. Karena tujuan dari peraturan ini adalah kesederhanaan, maka fokusnya adalah kemudahan. Satu tarif dengan besar 1% dinilai dapat diaplikasi dengan mudah oleh masyarakat. Harapannya, semakin banyak wajib pajak yang mau bayar pajak karena perhitungan yang mudah.  

Namun alih-alih disambut gembira oleh wajib pajak, peraturan pemerintah ini justru panen akan kritik. Isu keadilan mulai mengemuka karena wajib pajak menganggap peraturan ini telah melanggar hak-hak wajib pajak. Antara lain wajib pajak tidak lagi dapat mengkompensasi kerugian, sementara itu penghasilan tidak kena pajak (PTKP) juga tidak lagi diberikan kepada wajib pajak orang pribadi lantaran pajak yang disetor bersifat final, sehingga tidak ada lagi perhitungan untuk akhir tahun. 

Penerapan peraturan ini boleh jadi menepikan hak-hak wajib pajak, namun semangat pemerintah untuk menyederhanakan pajak juga salah satu upaya untuk mencapai keadilan. Selama ini alasan kesulitan wajib pajak dalam memahami peraturan pajak membuat mereka enggan bayar pajak. Akibatnya angka kepatuhan rendah. Target penerimaan pajak ditanggung oleh wajib pajak yang itu-itu saja. Sedangkan sebagian besar masyarakat bersembunyi dan menjadi free rider ikut menikmati manfaat pajak. Mirisnya, sebagian masyarakat yang bersembunyi adalah mereka yang mampu dan sanggup bayar pajak.

Sisi Lain Dari Keadilan Pajak
Dari pro kontra penerapan peraturan tersebut, keadilan akan pajak sesungguhnya dapat dilihat dari sudut pandang yang lain. Selama ini wajib pajak menuntut terpenuhinya hak-hak yang tertuang dalam ketentuan umum perpajakan, dimana pembayar pajak punya kesempatan mengkompensasi kerugian, dipajaki jika untung dan tetap mendapatkan batasan PTKP. Namun sesungguhnya yang perlu dituntut adalah mereka yang masih bersembunyi. Yang harusnya dituntut demi keadilan adalah mereka yang menjadi free rider akan manfaat pajak padahal sesungguhnya mereka mampu untuk membayar pajak. 

Direktur P2Humas Ditjen Pajak, Kismantoro Petrus pada suatu kesempatan mengatakan bahwa pada proses observasi, yang sejatinya menjadi beban masyarakat usaha bukanlah pajak, tapi pungutan liar yang dilakukan preman berseragam hingga oknum aparat pemerintah. Menyisihkan Rp 100 dari Rp.10.000 atau pajak 1% dari omset penghasilan bukanlah hal yang berat. Para pelaku usaha justru berharap pungutan liat tersebut bisa diberantas. Mereka berkeinginan agar dengan membayar pajak, pemerintah punya upaya lebih untuk memerangi pungutan liar. 

Contoh nyata adalah pedagang PKL tanah abang yang berhasil direlokasi oleh pemda DKI. Selama ini PKL tersebut membayar jutaan rupian per bulan kepada oknum tertentu agar dapat berjualan dan menimbulkan kemacetan. Mereka membayar pungutan yang justru menciderai hak orang lain akan jalan umum. Kemacetan juga menimbulkan kerugian yang luar biasa. Jika saja semua pelaku usaha membayar pajak dengan benar, pemerintah akan punya dana untuk membuatkan tempat yang layak bagi mereka berjualan. Tidak ada lagi pungutan liar yang mencekik pedagang. Sedang biaya perawatan gedung juga akan dibiayai dari pajak yang mereka bayarkan. 

Namun masyarakat masih terjebak dalam paradigma bahwa pajak adalah beban yang menyengsarakan. Bukan upaya yang mensejahterakan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat proses pajak dapat mensejahterakan butuh waktu yang panjang. Butuh 45 tahun bagi Denmark meningkatkan tax rationya dari 30% menjadi dsatas 45%. Masyarakat kita tidak sabar dan menginginkan cara yang pragmatis untuk memperoleh kesejahteraannya, meraup untung dan menghindari pajak. Kesabaran masyarakat tersebut juga tergerus dengan korupsi yang mengakar dan mewabah.  

Namun hal ini jangan sampai membuat langkah pemerintah surut. PP No. 46 tahun 2013 memang bukanlah peraturan yang sempurna. Ditjen Pajak juga terus melakukan penyempurnaan dalam penerapannya di lapangan. Yang perlu diingat adalah pemerintah telah membuat satu langkah maju untuk memperluas basis pembayar pajak, berupaya untuk meningkatkan keikutsertaan masyarakat terhadap pajak. Merakyatkan pajak untuk mensejahterakan rakyat.

Bangku Kuliah untuk Wita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah penyandang disabilitas melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Pusat, Rabu (12/3).
Mereka menuntut dihapusnya aturan ujian Saringan Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri  (SNMPTN) 2014 yang kaum difabel tidak bisa mengikuti ujian beberapa jurusan yang berada di pergururan tinggi negeri. (Rabu, 12 Maret 2014, 19:02 WIB)


Para penyandang disabilitas ini memprotes persyaratan yang dicantumkan di website SNMPTN (www.snmptn.ac.id) untuk beberapa jurusan tertentu. Persyaratan tersebut antara lain:

1. Tidak tuna netra
2. Tidak tuna rungu
3. Tidak tuna wicara
4. Tidak tuna daksa
5. Tidak buta warna keseluruhan boleh buta warna sebagian
6. Tidak buta warna keseluruhan maupun sebagian 
7. Lihat persyaratan khusus di website PTN

Penempatan persyaratan ini sebenarnya wajar-wajar saja asal pada jurusan yang tepat. Misalnya untuk jurusan IPA. Sulit rasanya bagi penderita tuna netra untuk kuliah di jurusan biologi atau kimia. Atau misalnya sastra yang mengharuskan mahasiswanya mampu berkomunikasi aktif sehingga mensyaratakan nomer 2 dan 3. Namun di tahun ini ada yang berbeda. Karena ada miskoordinasi, beberapa universitas menetapkan sepihak syarat-syarat per jurusan. Selain tidak dikoordinasikan dengan Kementrian Pendidikan, pencantuman syarat-syarat tersebut juga belum dikonfirmasi kepada rektor universitasnya.

Hal ini terbukti ketika di program Suara Anda Metro TV (Rabu, 12 Maret 2014), Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) misalnya yang mengatakan ada kesalahan unggah yang seharusnya tidak mencantumkan syarat-syarat yang tidak tepat bagi jurusan-jurusan di universitasnya. Menteri Pendidikan juga mengatakan hal ini tidak seharusnya terjadi, dan berjanji akan mengevaluasi pencantuman persyaratan yang tidak tepat tersebut. 

Syarat kepesertaan SNMPTN dari Universitas Negeri Jakarta. Sumber : www.snmptn.ac.id (diakses 21 Maret 2014)
Namun hingga seminggu berlalu, website masih belum berubah. Masih mencantumkan persyaratan panjang bagi peserta. Seperti jurusan sosiologi di UNJ yang menghendaki lengkap syarat 1,2,3,4,dan 6. Padahal di Universitas Indonesia misalnya, mahasiswa tuna netra bisa mengambil jurusan Hukum dan Sastra.


Kuliah yang kita anggap sebagai proses lumrah, dan mudah untuk dijalani ternyata tidak begitu bagi para penyandang disabilitas.Tidak cukup keterbatasan yang sudah mereka terima sebagai takdir, pembatasan untuk belajar tentunya makin mempersempit ruang gerak mereka.

Seketika saya ingat peristiwa dua tahun lalu
Namanya Wita

Satu - satu

oleh :  iwan fals
Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda

Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi

Satu satu daun jatuh kebumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda

Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas tunas muda bersemi

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi







Hujan

Jakarta pagi ini, HUJAN

Dan pemandangan yang terserak sepanjang jalan adalah macet. Dan kehawatiran berikutnya adalah terlambat masuk kantor. Hujan di Jakarta saya terima dengan perasaan yang berbeda dengan tahun-tahun lalu saat masih tinggal di kota kecil ujung pulau Jawa. Hujan adalah kesyukuran. Ada perasaan bahagia yang menyelusup setika bulir-bulir air satu persatu mulai berjatuhan menciumi tanah dan menerbangkan debu-debu halus. Aroma hujan begitu mempesona. Dulu hujan pun punya cita rasa. Yang menyenangkan, menenangkan. Sama-sama pagi. Sama-sama punya kewajiban di pagi hari yang harus dituntaskan, berangkat sekolah - yang sekarang berganti dengan berangkat ke kantor. Tapi dingin hujan tetap bisa saya nikmati dengan riang. Oh ya, saya juga tak punya jas hujan, jika hujan ya diterima saja sambil kebasahan ke sekolah. Tak ada gerutu, tak ada penyesalan.

hujan punya banyak cerita :)


Pagi ini, seperti pagi - pagi hujan Jakarta sebelumnya, selalu ada perasaaan risau melihat hujan yang datang tiba-tiba dari sebelum subuh. Artinya, saya harus berangkat jauh lebih awal, masih gelap. Bis jemputan kantor bisa jadi tidak datang karena rumah sang supir kebanjiran. Sedih. Lalu diperjalanan, saya lihat tukang sayur langganan ibu yang sudah tua, menggelar dagangannya ditepi jalan. Dia kebasahan, dagangannya sepi, tak ada pembeli. Sedih. Belum lagi di jalan selalu was-was jalanan akan macet. harus cari jalan alternatif. terlebih jika sudah macet dan tag, khawatir bensin mobil kami cukup atau tidak, terlambat absen atau tidak, memikirkan suami apakah bisa menembus 3 in 1 di Sudirman atau tidak. Sedih. Dan yang terakhir ketika buka smartphone dan baca timeline TMC Polda Metro, seketika akan akan terhampar foto-foto banjir, dan macet dimana-mana. Ini bukan sedih lagi, MIRIS. Padahal saya hanya duduk disamping suami, menemaninya menyetir dengan tenang. Tidak kebasahan, tidak kecipratan air dari kendaraan yang melintas yang sering saya alami waktu berangkat sekolah dulu.Harusnya saya bisa menikmati hujan dalam diam. Tapi nyatanya tidak. Dan perjalanan lambat menuju kantor pagi ini membuat saya rindu pada hujan di kota kecil saya. Dimana ketika hujan, ibu membisikkan kata-kata, "kalau hujan turun, jangan lupa berdoa."

We Are One Big Family (Hikayat Staples dan Sortir Negara: Part 2)

Menyukai tempat, pastilah berasalan. Barangkali pemandangannya, bentuknya, warnanya, ornamennya, atau bahkan tetumbuhannya. Namun, daya tarik yang paling kuat dari sebuah tempat adalah orangnya. Bersama siapa kita berada disana. Oleh karena nya, kita kadang rela menumpuh ribuan mil untuk menuju suatu tempat, dengan alasan: menjumpai kenangan.

Merindu penghuni PPDDP (masih dengan bapak Kiesmantoro sebagai Kepala kantor)
Sedang di sisi lain, ada pula orang - orang yang enggan beranjak dari tempatnya, bukan karena betapa mewahnya tempat dia berpijak saat ini, namun mereka enggan untuk melakukan perpisahan, dengan orang-orang yang ada di tempat yang sama. Karena, perpisahan, selalu menguras tenaga.

Dan tempat yang akan kuceritakan kemudian adalah bangunan delapan lantai, yang menampung puluhan ribu dokumen negara dan berdesakan dengan kenangan - kenangan indah kami disetiap sudutnya. Kami, 79 anak - anak muda kala itu datang dengan lugu, dengan baju hitam putih kami yang lusuh berkenalan pertama kali dengan bangunan itu beserta penghuninya. Kubus besar yang gagah menjulang itu, empat tahun kemudian tidak hanya jadi bangunan kaku, namun jadi rumah yang memberi hangat untuk kami. Kami menyebutnya, PPDDP

Bagaimana PPDDP, saya sudah ceritakan di artikel sebelumnya, kali ini saya akan bercerita tentang penghuninya. Mengapa kami sangat sayang, sangat senang dengan PPDDP. Tidak lain karena kehangatan orang-orang disana. Stay tune disini yaa :)

Semeru menggebu


Ketika itu, saya sudah berada di tepi jurang. Ingin menuruni tebing dan nekat menjumpai buih ombak laut jauh di dasar tebing. Dan tak lama dari keputusan saya yang prematur itu, ada sebuah pesan. Yang berdenting menarik perhatian. Kuputuskan untuk mengintip sebentar. 

Naik Gunung yuk, Semeru. Gimana menurutmu?
Dari pada kamu turun sendirian, aku temani kamu memuncak, membuat cita - cita baru.




Dan setangkup rindu pada hawa dingin serta hangat mentari yang begitu disyukuri hadirnya di gunung tiba - tiba hadir. Menggulung keinginan yang tadi membuncah menuruni tebing di depan mata. Berbalik dan mulai melangkah menuju tempat pertemuan. Rindu pada sahabat saya yang seringkali menjadi penyelamat dari keputusan - keputusan yang gegabah dan tidak berarah.

Tapi, naik gunung? sedangkan lift adalah benda yang amat saya idamkan di kampus. Terengah - engah sambil mengutuki manajemen kampus dengan kata - kata yang selalu diulang: kemana uang sumbangan pendidikan saya, hingga kami mahasiswa yang bayar mahal di siksa naik tangga seperti ini.  

Tapi, naik gunung? sedang hal - hal yang bersifat - pengetahuan alam- saya amat sangat terbatas. Naik gunung baru satu kali. Dan lebih tepatnya wisata ke gunung yang tak lebih dari 3000 mdpl.menapaki tanjakan satu demi satu pastilah sesuatu.

dan Semeru?
Ya semua orang tahu. Siapapun yang berhasil menapakkan kaki di puncaknya patutlah berbangga hati. Dan saya pun selalu bertanya - tanya, orang - orang seperti Soe Hok Gie,  mau menantang maut dan dikalahkan oleh ajalnya di gunung itu, pastilah semeru ini memikatnya dengan luar biasa.

Tapi belum apa - apa, entah apa yang membuat saya begitu bahagia dengan membayangkan puncak gunung. Membayangkannya saja sudah melecut semangat. Saatnya lah saya hadir dalam perayaan kemenangan yang sesungguhnya. Yakni perayaan pembuatan cita - cita baru.

Hari itu, dengan hati yang berbahagia, dengan cemas yang juga sedikit merayap saya memulai.

dan Sungguh Tuhan Maha Baik, Dia memberiku banyak bahkan apa yang tak kuminta. Beberapa sempat kutulis dan ingin saya bagi dengan kalian ke beberapa segmen. Semoga sempat. :)


Life in Flower Land


Dalam dunia imaginasi saya, tak perlu rumah mewah, mobil mewah dan segala harta benda. Tapi bercita - cita ingin punya rumah ditengah taman bunga bak dongeng anak - anak. Masih boleh kan berminpi ala princess?

Kecintaan saya pada bunga entah sejak kapan. Berawal dari seringnya mengunjungi rumah guru SD buat bimbingan belajar. Rumahnya mungil, maklum rumah dinas, tapi sekelilingnya bunga dan tanaman dimana-mana. Nyaman rasanya. Tiap keluar rumah langsung timbul semangat karena mata dimanjakan dengan kesegaran alam. Ada suara gemericik air mengalir. Surga dunia lah pokoknya. Cinta pada bunga ini makin menjadi - jadi sejak saya menemukan pasar bunga yang bernama Rawabelong. Tak terkatakan lah bahagianya setiap kali saya ada disana.

Sayang orang tua dan saya beda selera. Buat ayah dan ibu, taman, bunga, kolam dan semacamnya itu nomer dua. Yang penting penghuninya ga kena panas ujan aja. Udah, cukup. Mau perabot taruh mana, warna korden ga matching sama sofa dan lain - lainnya. yang penting ada. ga pusing dengan estetika. keindahan bukan concern utama. karena saya bukan sponsor utama, malah pihak yang disponsori, apalah daya bargaining power saya kecil saudara - saudara.

Jadi, impian rumah idaman itu hingga saat ini belum terwujud. Rumah dengan saung dari kayu di kaki gunung, dengan taman bunga sekeliling. Tak perlu besar. Tapi cukup untuk menampung beberapa anak mungkin belasan bermain dan belajar disana. Bukan anak saya saja (nanti) tapi juga orang - orang lingkungan sekitar. Cita - cita besarnya, di Flower Land tadi, hidup saya dengan keluarga kecil, beserta anak - anak desa yang saya didik agar menggenggam erat cita citanya. Jadi apa saja terserah mereka, saya adalah penjaga sekaligus pembangkit optimisme agar anak - anak lugu itu tetap bercita - cita. Yang ketika itu, semoga cita - cita bukanlah hal yang langka. Yang ketika itu, entahlah negara kita makin semrawut atau sudah lebih baik. 

Rumah ini terlalu besar, namun ada dikaki gunung ijen lengkap dengan bunga ala belanda.


Ketika Kotak Amal Kosong, Kemana Perginya?


Alkisah petugas pengambil kaleng amal tertunduk lesu karena hasil amal para jamaah merosot tajam. Diantaranya justru mengambalikan kaleng amalnya. Para jamaah curiga hasil pengumpulan amal dikorupsi oleh pengurus masjid. Renovasi masjid tak kunjung usai, sedang amal tak pernah kurang diberi. Petugas amal juga dituduh sebagai koruptor kaleng amal. Petugas amal yang sedih itu bertanya dalam diam. Jika benar hasil amal dikorupsi, apa mogok amal bisa jadi solusi? 

pic: www.flickr.com
Ilustrasi diatas merupakan gambaran mengenai kondisi para “jamaah” yakni wajib pajak yang enggan membayar pajak karena adanya mistrust terhadap pengelolaan pajak. Seperti para jamaah masjid yang mogok isi kaleng amal, wajib pajak juga melakukan ancaman boikot pajak sebagai bentuk ketidakpercayaan. Namun benarkah boikot pajak ini bisa menjadi solusi? Dimanakah letak permasalahan sebenarnya?

Keletihan masyarakat
Apatisme lahir dari kekecewaan. Boikot pajak muncul sesungguhnya bukan karena motif agama dan kepercayaan – meski memang ada sebagian didorong karena motif tersebut, namun lebih kepada kekecewaan terhadap pengelolaan hasil penerimaan pajak. Masyarakat tentu jengah melihat para pejabat menikmati uang rakyat serta bosan dengan pemberitaan media tentang korupsi. Namun disatu sisi, jalanan masih berlubang sana sini, anak-anak sekolah masih bergelantungan menyebrangi sungai demi mencerahkan masa depan. Terlebih masih ada aparat pajak yang belum hijrah bersama reformasi birokrasi, masih menanggalkan intergitas, kerjasama dengan WP yang tidak jujur mengurangi pembayaran pajak. 

Hal – hal semacam inilah yang menjadi mistrust wajib pajak. Berujung pada tanda tanya besar, kemanakah uang pajak yang terhimpun ratusan triliun itu? Kekecewaan mulai mendera. Kelompok pembayar pajak yang tadinya taat, mulai mengendurkan semangat melihat uang pajak yang mereka bayar masih bocor sana sini. Kelompok pembayar pajak yang curang tetap diam, sambil terus mencari peluang bersama petugas pajak yang mau disuap untuk mengurangi pembayaran pajaknya. Kelompok ketiga adalah kelompok yang bukan pembayar pajak, mereka lah yang kemudian teriak dan turun kejalan meminta keadilan. Menyerukan boikot pajak, menuntut para aparat pajak dan mengutuki Direkorat Jenderal Pajak (DJP), sang amil pajak yang malang. Sayangnya mereka salah alamat. Meminta kesejahteraan meningkat namun bersamaan menyeru pada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Padahal. jika sumber pendapatan negara ini surut, sulitlah mewujudkan keinginan rakyat agar keran – keran subsidi terus dialiri. 
pic: /ideguenews.blogspot.com

mendengarkan dengan hati


Petang itu, sebenarnya hanya ingin mampir maghrib karena adzan sudah berkumandang, tapi selesai  shalat tertarik melihat backdrop penuh cahaya yang biasa puat tempat foto seleb kalo lagi ada award. Wah, ini pasti ada acara seru nih. Niat pulang akhirnya urung dan lanjut isya di mesjid ini.

u are not touching without a smile
Benar saja, jam 8 malam, para jamaah yang umumnya remaja (saya masuk kategori ini) masjid Sunda Kelapa. Semangat juga yah rupanya. Malam minggu biasanya entah kemana, pindah tempat nongkrong jadi di mesjid. Pasti ada yang spesial. Ada siapa sih?

Tak lama kemudian, pembicara datang. Wah,,Alvin Adam! Bakalan asik nih. Kebetulan beberapa waktu lalu, saya sempat baca profil tentang Alvin Adam dan makin impresed dengan personality serta kemapuan beliau setelah baca profil beliau dimajalah. Cuma penasarana aja, gimana yah kalo ketemu langsung? Secara kampanye pencitraan bener2 ga populis lagi. Udah follow twitternya, dan makin suka. Ga heran dong  dengan kemampuan good listening nya, program TV nya masuk dalam jajaran rating tinggi. 

Setelah ketemu, bener deh. Kayak begini nih orang sukses. Auranya keluar. Semangatnya, dibalut dengan kesantunan, tapi kita  sebagai audience tetap merasa dekat dengan beliau. Taglinenya keren. Keren karena unsur simplicitynya bs dia terapkan bener- bener. “Hanya hati yang bisa mendengarkan kata hati”. Wow, hayo siapa yang ngedengerin curhatan orang trs pengen orgnya cepet selesai ceritanya? Saya! Saya ngaku deh, kalo dengerin WP ngeluh blablabla udah ngalor ngidul langsung ga sengaja berdoa; Ya Allah, udahan dong ni si bapak/ Ibu curhatnya” 

Ini nih yang musti saya asah lagi. Sering ngrasa, ga cocok sm pekerjaan karena saya bukan good listener, not good adviser, impatient, plus selalu kalah narsis dan pede dibanding rekan kerja lainnya. Tapi udah 4 tahun kecemplung, masak terus dibiarin aja gitu ketidakmampuan saya mengurung saya dari masa depan cerah yang gemintang? Beuuuh…sip!! (kepercayaan diri saya udah mulai naik nih)

Manusia yang Percaya


pic: penuliscemen.com

Manusia terkadang sangat mudah tertipu. Konyolnya, mereka tertipu dalam perjalanan mereka untuk mendapatkan keyakinan dari apa yang sudah dilihat dan didengar. Sama seperti para nasabah lembaga keuangan gadungan yang tiba - tiba lari meninggalkan para korban. Padahal sesungguhnya para nasabah itu tidak yakin akan kemustahilan uang berlipat ganda. Namun melihat tetangga kanan kiri yang bisa mendadak kaya, mereka sedang dalam perjalanan menuju yakin tapi apa daya hanya bisa gigit jari.

Kadang orang juga mudah tertipu karena mereka berharap pada tipuannya. Sudah tahu bahwa air tak akan bisa jadi bensin, tapi ada saja orang yang sangat ngarep tipuan itu benar adanya. Jika benar air bisa jadi bensin, lalu daun bisa jadi uang, list orang terkaya di dunia bukanlah Bill Gates, tapi bisa jadi Dedy Corbuser. 

Yang terakhir adalah orang yang mengijinkan dia tertipu. Sekali, dua kali, bahkan berkali - kali. Seperti seorang ibu yang tak kuasa untuk tetap mempercayai anaknya meski ia tak punya lagi ruang untuk kecewa saat tahu anak kesayangannya itu masih tak meninggalkan narkobanya. Seperti istri yang tahu bahwa suaminya adalah seorang peselingkuh, tapi ia tetap memperbarui kepercayaannya ketika suaminya ijin keluar kota. Seperti ayah yang menunggu belasan tahun untuk keadilan anaknya yang terbunuh. Seperti rakyat yang tau bahwa orang yang ia pilih untuk mewakilinya di gedung yang terhormat itu pastilah berkhianat.

Nyali mikroskopis



Kamu tak punya alat transportasi, tapi tak menyusutkan langkahmu untuk mencari nafkah untuk keluargamu. Kamu mungil. Tapi nyalimu menjulang setinggi gunung. Mengisi perutmu tak pernah mudah, tapi kamu cukupkan rejekimu dengan membagi hasil tangkapanmu dengan teman - temanmu.


Manusia seharusnya malu. Konon katanya kami punya akal. Tak sepertimu yang katanya hanya punya nafsu. Dia serakah. Jangan kan berbagi, Dia justru tak segan berbuat curang dan ambil bagian orang lain. Dia malas, dan punya sejuta alasan untuk tetap berbaring dalam kemalasannya menunggu rejeki datang.


Buatmu, aku yang mematung di sebelah bongkahan tangkapanmu ini adalah raksasa. yang siap memencetmu kapan saja. Tinggal lah berita duka untuk keluargamu. Kamu mati diinjak kelingking sang raksasa. Tapi sungguh itu tak menyiutkan langkahmu untuk memecah bongkahan roti dan membawanya pulang untuk keluargamu.Meski ada aku yang sedari tadi memelototimu.

Dalam lipatan - lipatan tubuhmu yang mikroskopis, kamu adalah pemimpin. PEMIMPI yang punya senjata huruf "N" diujungnya. NYALI. Itu yang membedakan kamu dengan manusia - manusia seperti saya. Raksasa, namun kadang nyali kami jauh lebih mikroskopis dari tubuhmu. 

Cermin dan persimpangan



Dia sudah sampai di perempatan kesekian. Ia bergumam pelan, semoga perempatan terakhir
Seperti persimpangan sebelumnya, masih menggemgam cerminnya, dia melangkah pelan. 
Pagi mulai beringsut - ingsut bangkit dari selimut kabut. Meretas, dan lamat - lamat persimpangan terlihat jelas.

Ada tiga jalan membentang berbeda arah, dan kebimbangan mulai berarak dari persimpangan di dua bola matanya ke dalam hatinya
Belok kanan, cahaya lampu jalan berpendar, belum dimatikan
Belok kiri, ada gedung - gedung tinggi. Jalan itu cuma kenal dua situasi. Sepi sekali, atau ramai sekali.
Lurus, ada papan besar, ucapan selamat datang. Datang kemana? sayangnya petunjuk ada di balik papannya. 

Tapi yang dia lakukan justru diam ditempatnya. Ia sungguh lelah. Sudah banyak persimpangan yang ia lewati. Ia abaikan.
Dimana yang dia temui adalah jalan yang selalu asing. Kadang ramai kadang sepi. Kadang dia takut.
Tapi yang penting baginya adalah berjalan. Entah belok kanan, kiri atau lurus, yang penting ia berjalan. 
Terus berjalan. Dan ketika ia mendapati jalan buntu, maka ia angkat cerminnya dan dia punya jalan untuk langkahnya
Ia berjalan mundur

pic: http://www.yanidel.net/
Masih dipersimpangan.Tapi dia masih tak bergeming dari duduknya. Kanan kiri menari, tapi baginya jalan buntu. 
Hatinya yang buntu

Persimpangan ini membutuhkan cermin. Tapi kini baginya cemin adalah kebuntuan baru, karena dengan cermin, ia tak pernah sampai di ujung perjalanan.  Cermin menyelamatkanya dari kebuntuan, namun mengantarnya pada persimpangan yang lain. Cermin ini adalah tempat ia lari, dari hal yang ia benci. Memilih


Persimpangan dan cermin
Ia mulai berjalan dan meninggalkan cermin di persimpangan. 

Between 8 miles


Universitas Indonesia, Salemba pic :http://urbansketcherwidiyatno.wordpress.com
Sudah kurang lebih delapan bulan saya menjadi mahasiswa sekaligus seorang pegawai abdi negara. Setiap hari, saya melakukan kurang lebih 8 mil perjalanan jauhnya untuk mencapai kampus saya di seputar Salemba. Dalam perjalanan ke kampus setiap sore, mengendarai motor dan melaju pelan karena macet Jakarta di jam pulang kantor, ada perasaan yang sulit saya jelaskan. Atau lebih tepatnya agak malu saya jelaskan karena sebenarnya saya tahu benar apa yg saya rasakan tapi masih menimbang apakah apa yang saya alami normal atau berlebihan. 

Secara sederhana, apa yang saya rasakan adalam semacam kegembiraan, energi, semangat yang lebih mudah jika diterminologikan dengan kata enthusiasm.Dalam kamus english oxford, kata enthusiasm diartikan sebagai berikut:
1. intense and eager enjoyment, interest, or approval:  2.archaic, derogatory religious fervour supposedly resulting directly from divine inspiration, typically involving speaking in tongues and wild, uncoordinated movements of the body. 
atau dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan kegairahan; gelora semangat; minat besar terhadap sesuatu. 

Lalu apa yang menjadikan saya memiliki persaan tersebut? Mungkin terdengar muluk, tapi saya ingin mengatakannya dengan jujur. I love to be a learner.  Ketika di kelas, seletih apapun saya, kelas seperti me recharge energi buat saya. Walaupun kadang setelah keluar kelas bahkan saya sudah lupa details yang diomongkan oleh dosen, atau justru bingung dengan materinya, saya tetap bahagia. Seperti menemukan sesuatu yang memang saya cari.

Dalam perjalanan pulang, saya lebih banyak berpikir. Setelah saya lulus suatu hari, apa lagi yang saya bisa lakukan? ada keinginan yang sangat besar untuk mengajar. Menjadi dosen, pekerjaan idaman saya. Namun rasanya malu jika jadi dosen tapi kurang ilmu. Karena menurut saya, menjadi guru adalah pendidik. Bukan sekedar pembaca slide atau pemberi ceramah. Namun harus bisa memberikan pencerahan. Rasa - rasanya saya masih jauh dari kemampuan memberikan enlightenment. Alih- alih justru saya yang masih sangat butuh dicerahkan. Keresahan saya yang kedua dan yang terbesar adalah pekerjaan saya sekarang hingga saat ini (belum) memungkinkan saya untuk menjadi seorang pendidik.

Kira - kira demikian saya menghabiskan 4 jam waktu saya selepas kerja. Dalam delapan mil keberangkatan, ada dialog bisu antara pikiran saya dan hati saya yang bergairah, yang bersuka cita menikmati perjalanan. Seolah menjemput kekasih impiannya, ilmu.

Lalu di delapan mil berikutnya ada perbincangan lesu - masih antara saya dan pikiran saya tentang ketidaksiapan menghadapi masa depan dan tanggung jawab setelah menerima sejumput ilmu. Perjalanan pulang setelah pesta ilmu selalu menyisakan keresahan atas pilihan jalan hidup yang dijalani saat ini, namun ciut untuk mengambil sikap berani. Meringkuk dalam tirani yang saya buat sendiri :Saya bisa kuliah karena saya bekerja

Semoga suatu hari saya bisa membuka pagar dan mengubah kalimat diatas menjadi, saya bekerja karena saya bertanggung jawab atas ilmu yang saya dapat di kuliah, Amin

Leiden University, yang berjarak ribuan mil dari Jakarta. One day :)

Kerelaan

            
                 I'm totally ordinary girl
             who love ordinary man
             wish to be loved with fully affection
             dream to live happily ever after
             obedient and serve my husband as my devotion to God
             and hope he loves me, my family, more than loves powers

Tokoh favorit saya, gambaran istri yang ideal seperti juga para wanita lain adalah ibu Ainun Habibie. Tanpa saya jelaskan lebih lanjut, tokoh ini memang bisa mengambil simpati banyak orang. Dengan kelembutannya, kecerdasan dan dedikasi beliau kepada bangsa, Ekstrimnya jika kita bandingkan dengan Imelda Marcos (yang beralibi ribuan pasang sepatunya itu ia beli demi kepentingan bangsa dan negara), Ibu Ainun pastilah menang gemilang di hati siapa saja dengan kesahajaannya. 

Yang saya kagumi dari kehidupan Habibie-Ainun adalah  kesinergisan mereka berdua dan bagaimana mereka berdua saling mendukung satu sama lain. Pasangan yang sama - sama memiliki masa depan cerah di bidang masing - masing ini tentu saja ketika awal menentukan proiritas bersama tidak lah mudah. Ibu Ainun saat itu adalah seorang dokter muda lulusan UI. Dan pak Hibibie, seorang engineer yang sangat berbakat. Namun pada akhirnya dua insan ini bisa berkiprah menjadi insan yang berguna bagi bangsanya.

Menjadi seorang Ibu Negara bukanlah hal yang mudah, selain tugas yang amat banyak, beban psikologis sebagai public figure dan panutan bangsa menjadi dilema tersendiri. Menjadi istri seorang pemimpin (bagi yang memiliki tanggung jawab moral) adalah amanah yang luar biasa. Terlebih jika sesungguhnya ia juga memiliki potensi yang sama besarnya dengan suami untuk menjadi pemimpin. 

Tengoklah Hilary Clinton, ia bersinar sejak ia masih menjadi Ibu Negara, sedari awal ia di prediksi akan menjadi lawan tangguh suaminya sendiri jika suatu hari mereka pecah kongsi. Lalu Imelda Marcos yang justru lebih populer dibanding suaminya di kancah politik dunia. Atau jangan jauh - jauh, Ibu negara kita juga ternyata memiliki minat dalam hal yang sama. Belum lagi jika melihat daftar bupati yang ibu bupati nya juga menjadi bupati di kabupaten lain (suami istri maruk

Semangat Kawan :)




Kepada teman - temanku sepermainan, sahabat - sahabat yang kucintai..
Hari ini adalah hari dimana altar ilmu dibuka kembali.
Besemangatlah kawan, bersuka citalah karena ini adalah saat - saat yang kita rindukan


Aku kan menjemputmu di pintu gerbang, kusalami kalian dan kudoakan
Agar selamat dan berhasil memasuki kastil ilmu
Aku? setelah menyalamimu, aku kembali ke bukit dakian yang belum kutaklukkan puncaknya
Dibalik bukit itu bisa kujumpai pintu gerbang keluar kastilmu
Yang di hadapannya terhampar medan perang yang sesungguhnya.

Aku? setelah melihatmu bersusah payah mencapai gerbang ini,
Ku urungkan niatku masuk bersama kalian
Yang penting kita bertemu di balik bukit
Di mana disitu juga gerbang keluar kastilmu berada


Kawan, ku doakan Tuhan memberi kalian yang terbaik.
Semoga engkau mendapati pilihan yang diberi Nya dengan suka cita
Bersemangatlah, demi apa saja yang membuatmu semangat

Sampai bertemu dipintu gerbang kastilmu
Di cita-cita lain kemudian hari  :)


source picture: wanspeak.wordpress.com

Memaafkan Belanda


Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial yang mengindahkan kepentingan bangsamu
Semua Anak bangsa _Pramoedya Ananta Toer_

Suatu malam, dosen macroecomics saya yang cantik nan ajaib membuka pertemuan dengan pertanyaan:

 "Kalian percaya jika Indonesia benar-benar dijajah oleh belanda 350 tahun?"
 Selama itu, bisa jadi ada 7-10 generasi yang hidup dijajah terus menerus oleh negara orange yang kala itu juga sedang dijajah Perancis.

"Saya tidak percaya", ujar ibu ini. Saya juga (ingin) tidak percaya Bu.

Betapa baik rakyat Indonesia ini. Sungguh memiliki kepribadian yang mulia. Setelah beratus - ratus tahun hidup dengan kesengsaraan, neraka di negeri sendiri, miskin dan mati di lumbung padi dan kaya karena penjajah - amat sangat mudah memaafkan penjajahnya. Bayangkan, bahkan setelah merdeka, si kompeni yang luas negaranya tidak lebih dari provinsi Jawa Barat ini masih aja "ngobok-ngobok" kedaulatan kita dengan agresi militernya, tapi tak lama setelah itu, kita sudah berbaikan dengan para londo.

Douwes Dekker dan politik etis atau "balas budi"


Fenomena ini digambarkan secara apik oleh Pramoedya dalam tetralogi Pulau Buru nya. Bahwa ada kekonyolan klasik dan nyata. Rakyat saat itu, sadar sedang dijajah. Namun tak menampikkan kekagumannya terhadap Belanda - penjajahnya.

Tokoh 'Minke' sebagai pribumi, diceritakan sebagai intelektual muda kala itu, seorang nasionalis namun diam - diam dalam hati, menjadikan orang - orang eropa menjadi tokoh idaman. Di awal cerita, Minke menikah dengan penanakan Belanda.

Bersama Ny. Ontosoroh -mertuanya,  wawasannya mulai terbuka. Ia dihadapkan antara kekaguman yang berlimpah terhadap peradaban Eropa, dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil.

Minke adalah sebuah potret nyata yang tak diceritakan sejarah, yang melulu bercerita tentang heroik bangsa, namun meminggirkan fenomana ini. Sejarah menggambarkan kita membenci Belanda teramat sangat. Aspek psikologis lain, seperti kecintaan diam - diam ini tak pernah dituturkan.


Angka


Aku rindu masa kanak-kanak, yang bebas bercita cita. Hari ini polisi, besok dokter, besok lagi menteri. Yang riang ketika ingin jadi apa, yang tak membebani diri dengan bagaimana caranya dan sebagaianya.

Aku rindu masa kecil, yang suka menggambar. Mencoreti kertas gambar, lantai, tembok bahkan baju sendiri. Tanpa ragu, membubuhi warna warni, meski tak serasi tapi tetap percaya diri.

Aku rindu senangnya jadi anak SD. Yang bisa rangking satu tanpa menahan kantuk semalaman karena belajar. Yang tetap bermain meski besok ulangan. Mengerjakan PR tanpa manual solution tapi tetap benar.  Tidak belajar, tidak merasa bersalah. Tetap bahagia saja.

Aku rindu ketika masih amat belia, yang berangkat sekolah karena wujud bakti kepada orang tua. Tanpa embel – embel ambisi. Alih alih tentang status, pangkat dan harga diri. Sekolah adalah tempat menambah: teman bermain,  bersepeda, dan berpramuka kadang juga berantem. Sungguh saat itu, ilmu adalah bonus. 

Lalu perlahan –lahan, tentang ilmu ini mendominasi. Sungguh gembira ketika mengerti apa yang dijelaskan. Bungah ketika bisa menjawab pertanyaan. Lebih lagi jika ditanya teman. Namun perlahan, tentang ilmu tadi tergeser. Ketika  mengerti tak lagi cukup, memahami dan bisa menjawab tak lagi memuaskan. 

Dan saat itu, mulai ingin ada pengakuan atas kemapuan diri. Pengakuan yang diketahui oleh khalayal ramai. Ini adalah proses yang melelahkan. Ketika manusia mulai mengenal kata aktualisasi, kebutuhan akan pengakuan. Eksistensi.  Tak lagi lisan, tapi dokumen bukti. Nilai yang otentik, yang menarik.
Lamat- lamat solusi akan obsesi tadi menemukan pintunya. Nilai tadi ketemu takarannya. 

Angka

Dan ketika itu segala  niat luhur tentang bakti kepada orang tua, lalu tentang keutamaan ilmu yang agung, luluh lantah. Salam sekejap angka membelokkan cita – cita, membiaskan subtansi akan belajar.  Membuyarkan kejujuran. Yang penting angka, mengerti nomer dua, cara nomer tiga. 

Sungguh gemerlap angka sangat menggoda. Ia  menawarkan kemegahan kehormatan, menyuguhkan  kebanggaan, kepuasaan, kedudukan. Segala kemanusiawan yang menggembirakan. 

Pun bagi yang mendapat angka ini dengan tidak jujur, bahagia tentang angka ini tetap bisa membuncah. Karena manusia pandai berpura -pura, menipu dirinya sendiri. 



Aku ingin kembali ke masa kanak kanak. Aku ingin bersahabat dengan ilmu, lalu jatuh cinta dengannya. Lalu angka kujadikan  teman biasa aja. Meski ia sungguh menarik. Meski ia begitu cantik. Aku memilih dengan teman lama saja. Ia yang paling setia, ia yang jujur dan tak berkhianat pada yang jatuh cinta kepadanya

Heels for whole life?

People love beauty
That is our nature
But, will we choose magnificence over needs for whole life?


 Jika ditanya, barang apa yang paling saya perhatikan? jawabannya adalah sepatu.
Ukuran kaki yang kecil (yang sebenarnya agak kurang proporsional dengan tinggi dan berat badan), sesungguhnya memudahkan saya  membeli jenis alas kaki apa saja.

Saya pernah menemani teman (yang konon katanya paling cantik dalam khasanah pertemanan saya) membeli sepatu. Ukuran kakinya sebenarnya biasa saja, tapi cenderung agak melebar. Sehingga ia harus melepaskan mimpi untuk memiliki septau highheels yang ramping nan cantik (Tuhan memang adil, hehe)

Tak ada pantangan bukan lantas membuat saya mudah menjatuhkan pilihan. Semakin banyak pilihan semakin sulitlah memilih. Saya ingat dulu ketika jaman liburan sekolah, kami sekeluarga bisa untuk jalan - jalan ke surabaya. Tunjungan Plaza? It Must! jaman itu TP gedenya ga ketulungan (sampe sekarang masih suka nyasar didalamnya). Apa tujuannya?
Cari sepatu sekolah. Yang hitam, yang polos, yang sebenarnya sangat mudah ditemukan.



Tapi apa yang terjadi? 


For my lovely friend who feels hurt, keep holding on :)





You're not alone
Together we stand
I'll be by your side, you know I'll take your hand
When it gets cold
And it feels like the end
There's no place to go
You know I won't give in
No I won't give in

Keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through
Just stay strong
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you could say
Nothing you could do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through

So far away
I wish you were here
Before it's too late, this could all disappear
Before the doors close
And it comes to an end
With you by my side I will fight and defend
I'll fight and defend
Yeah, yeah

Keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through
Just stay strong
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you could say
Nothing you could do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through

Hear me when I say, when I say I believe
Nothing's gonna change, nothing's gonna change destiny
Whatever's meant to be will work out perfectly
Yeah, yeah, yeah, yeah

La da da da
La da da da
La da da da da da da da da

Keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through
Just stay strong
'Cause you know I'm here for you, I'm here for you
There's nothing you could say
Nothing you could do
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
'Cause you know we'll make it through, we'll make it through

Hikayat Staples dan Sortir Negara: Part 1



Alkisah tersebutlah sebuah tempat yang konon sulit disebut. Suka bikin orang belibet dan kepelset menyebutnya. Walaupun udah disingkat, tapi teteeep aja suka bikin orang salah sebut. Ok kita coba yah. baca nama ini sekali, terus tutup mata dan tiruin, sama ga? kalo sama, ntar bisa telp, ane kasih hadiah deh :)

PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN disingkat PPDDP


Gimana?
hehe,, ya gampang aja sih sebenernya, cm ga tau kenapa koq tiap ketemu temen mereka suka salaaaah ajah nyebutinnya, yang ga sabar juga krn kepanjangan katanya. 


Ok, aku mau sedikit berkisah, ini kantor macam apakah sih, level eselon dua tapi koq terkucil begini, sesama orang pajak ajah ga tau. NO, Aku ajah yang penempatan sini kagak tau, ada seonggrok gedung yang cukup besar nyelempit di jalan budhi ini yang ternyata gedung pajak juga. Eselon 2 pulak. Amalaaak,,

This is it! my Unique Plant 

Jadi kalo kantor pemerintahan umumnya buka pagi smp sore. ini kantor beda! pagi2 buta jam 6 mesin2 udah dihidupin, orang- orang di shift pagi udah mulai berdatangan.dan menjelang tengah malam, jam 23.00, para pegawai shift sore-malam baru mematikan komputer, mematikan lampu ruangan dan bergegas pulang. SHIFT?? yup..  kyaknya di seantero pajak raya ini, ini satu2 nya kantor yang pake sistem shift. Jadi mengoptimalkan kerja mesin2 yang ada disini agar bisa semaksimal mungkin di pakai

Sebentar2, ini pabrik apa kantor sih?

hahaha.. seems like a plant than office :)
Karena sesuai dengan tupoksi dan nama kantornya. Kantor ini berfungsi sebagai pengolah SPT  Wajib Pajak

 PPDDP Bakery, WE ARE "DatasCake" maker :)


gandum, seperti SPTadl bahan baku

Jadi ibarat bikin roti, PPDDP ini adalah pabrik tepungnya. Bahan dasar sedasar dasarnya untuk bikin roti. Jadi anggap saja itu SPT adalah gandum atau beras lah yah, yang diambil dari para petani, yang digotong berkarung2 dari sawah dan ladang, lalu disortir di pabrik. Yang memenuhi syarat lah yang akan dipakai. Seperti itu juga PPDDP. Subuh2 buta, para petugas pengambilan SPT sudah betebaran dan berterbangan ke KPP di seantoero Jawa. Dari Banten hingga Jawa Timur. Dari Serang hingga Surabaya, membawa kotak - kotak kemasan yang isinya SPT, yang jadi beras atau gandumnya pabrik roti.

Awal mula pekerjaan di pabrik tepung, beras dan gandum itu dipilah-pilah. Pastinya untuk proses selanjutnya, yang berkualitas prima lah yang akan dipakai, Seperti itu juga di PPDDP. Petugas sortir nantinya akan mengklasifikasi SPT dari KPP itu tadi. yang sesuai dengan ketentuanlah yang akan di proses ke tahap selanjutnya. Yang kurang lengkap, ga ada tanda tangannya, de el el, dibalikin lagi ke KPP. Di klasifikasikan ke berbagai jenis. Yang pake tulisan tangan, ketikan mesin atau print komputer, yang kertasnya standar atau nggak di kelompok2kan. Klasifikasi juga menurut jenis SPT, mana kadang WP suka salah formulir. Dan musti telitiiii banget ngerjaiinnya. Untuk PPN ada 12 kelompok, yang PPh malah 16 kelompok. Kebayang kan rempongnya. Tapi mbak2 dan mas2 di lantai dasar emang pada sabar dan penuh ikhlas mengerjakan :)

proses kerja PPDDP
Next, balik ke pabrik tepungnya yaaah, itu tadi gandum dan beras berkualitas lantas dijemur dulu. Agar kadar airnya berkurang. Kalo pabriknya udah canggih ya kadar airnya di kurangi entah di open atau apalah yang penting bisa kering. Di PPDDP. SPT yang tadi udah dipisah2 dan dikeringin dengan cara scanning. Kertas-kertas tadi di ubah bentuk jadi image supaya "kering". Biar bisa kepake ditahap selanjutnya yang paperless.

Nah,, sekarang kita masuk ke proses intinya, bulir-bulirnya di GILING. Di remah2 supaya jadi tepung. SPT tadi, just like that process, mulai lah direkam. What does it mean? item gambar image tadi, di masukin satu2 itemnya ke SIDJP.
Apa itu?
Tadi SPT yang di scan kan udah jadi image yah,  nah item2nya seperti indentitas wajib pajak, penghasilan kena pajak, pajak yang harus dibayar, berapa pajak final, harta dan lain2 yang ada di SPT  semuaaaaaanya dipindah sistem informasinya pajak yang namanya SIDJP. Dan setelah di transfer ke SIDJP, data yang sudah berubah menjadi informasi tadi langsung bisa dinikmati oleh insan pajak di Indonesia (yang belum kejangkau SIDJP mohon maaaap)


Last section, selama proses perekaman tadi ada sesi QA atau quality assurance yang menjaga kualitas perekaman agar kemungkinan salah rekam mendekati NO ERROR (kalo ada, dimaapken yah. Jutaan lembar SPT gitu :p) 


And next question: kenapa sih musti discan? ga rekam biasa ajah? langsung dari dokumennya langsung lagi!