header-photo
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Seseksi Karung Beras


Cantik itu relatif.

Ah basi! Cantik itu absolut. Punya kiteria mutlak yang tak bisa disanggah. Bentuk – bentuk tertentu yang secara paten disepakati menjadi unsur pendukung kategori CANTIK. Kulit halus putih menawan. Hidung mancung bukan ke dalam. Dagu yang berbentuk sedikit cekung dan proporsional. Mata yg tajam, dan bulu mata lentik. Mungkin akan lebih tepat dikatakan bahwa cantik itu di definisikan dalam ranah tertentu. Setiap wilayah, beda kriterianya. Punya lingkup wilayah yang masyarakatnya yang secara diam – diam, atau juga secara ramai bersepakat bahwa cantik itu seperti itu, itu, dan itu.

Lebih – lebih seksi. Lebih banyak lagi itu persyaratannya. Pengorbanannya juga banyak. Maintanancenya tidak kalah sama eksperimen para ahli di laboratorium. Salah takaran, salah treatment, ulang dari awal. Cantik dan seksi itu anugerah sekaligus siksaan buat wanita. Jika terlahir tanpa keduanya, hanya orang – orang istiqomah yang bisa memperolehnya.

Sudah 24 tahun, cermin yang tergantung di ruang makan ini menjadi perekam setia wajah sumringahku setelah makan. Masakan ibuku memang lezat luar biasa. Seberapa kenyangku, jika makanan terhidang, aku lupa kalau sudah kenyang. Menyantap masakan ibu hingga tak bersisa. Sebelum beralih ke camilan di ruang tengah, aku selalu terhenti di depan cermin. Entah kenapa ibu meletakkan cermin panjang ini diruang makan. Hal yang tak biasa. Itu karena cermin ini ajaib.

Titik Balik Sebuah Gambar


Suatu ketika aku pernah diminta untuk menggambarkan aku dengan sebuah bentuk yang representative.

Lama aku berpikir sejenak.. kemudian tanpa ragu segaris demi segaris aku menggambar sebuah bentuk..

" Apa ini ??" tanya sang peminta yang heran dengan gambar yang semrawut.

" Itu proses.. " kataku.

"Absurd sekali maksudnya..??" ia ingin memperoleh penjelasan gambar yang lebih diterima akal..

"Itu metamorfosis", kataku melanjutkan

"Mengapa..?", tanyanya lagi

sebenarnya aku hendak menjawab karena aku orang yang enggan berhenti.. menyukai proses dan perjalanan.. tapi aku urungkan dengan menjawab sederhana.

"Karena aku hanya ingin memiliki proses itu.."


Mungkin si peminta gambar berpikir aku berorientasi pada akhir metamorfosis itu, mewujud sebagai kupu - kupu yang mempesona. Bukankah iya?? Hm,, sepertinya menyeretku pada kesimpulan itu, adalah hal yang wajar.. karena sebelum aku memberi jawaban terakhir,, beberapa detik sebelumnya yang kubayangkan adalah sayap dan pesona warna. Kebebasan, eksistensi dan gemerlap diri danwujud indah.

Tapi, sebelum berucap, peminta bertanya lagi,, sepertinya pertanyaan akhir yang harus kututup mempesona, menutupi wujud gambar yang sama sekali tak bisa dibanggakan.

"Proses mana yang paling kau ingini??"akhirnya pertanyaan ini sampai juga.

" Proses berpuasa.. menahan diri" kataku dengan terbata, membayangkan konsekuensi psikologis dan komitmen jangka panjang atas ucapan tadi.

" Baik jika begitu,,selamat melanjutkan proses, atau mungkin memulai proses..", ucapnya dengan senyum mengembang.

Ucapan tadi ternyata bergemuruh di dalam hati, meluruhkan hasrat yang meloncat - loncat tinggi. Jadi,, ternyata aku digiring untuk memulai proses yang baru saja terdeklamasi.

"Lya,,kamu barusan bicara sama siapa??" wanita separuh baya itu membangunkan lamunanku.

"Oh,, sama bayangan di kaca Bunda.." kataku lirih

" Bukankah kamu yang dari tadi bercermin...??"